Selasa, 28 April 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 3

Person Centered Therapy
Person-centered therapy dikembangkan oleh Carl Rogers. Ini jenis terapi menyimpang dari pandangan tradisional terapis sebagai ahli dan bergerak bukan ke arah pendekatan non-direktif yang diwujudkan teori aktualisasi kecenderungan. Teori mewujudkan kecenderungan mengatakan manusia memiliki potensi untuk menemukan realisasi kemampuan pribadi mereka sendiri. Landasan ini metode terapi ini berasal dari keyakinan bahwa setiap manusia berusaha untuk menemukan kepuasan mereka sendiri dan pemenuhan potensi sendiri. Carl R. Rogers menyatakan bahwa, "Individu memiliki dalam diri mereka sendiri sumber daya yang luas untuk pemahaman diri dan untuk mengubah diri mereka-konsep, sikap dasar, dan self-directed perilaku, sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan jika iklim didefinisikan sikap psikologis fasilitatif dapat diberikan "(dari Carl R. Rogers. Cara Menjadi Boston: Houghton Mifflin,. 1980, hal.115-117).
Rogers mengidentifikasi enam faktor utama yang merangsang pertumbuhan dalam individu. Dia menyarankan bahwa ketika kondisi ini terpenuhi, orang akan tertarik ke arah pemenuhan potensi konstruktif. Menurut teori Rogerian, enam faktor yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah:
1.      Terapis-Klien Kontak Psikologis: harus ada hubungan yang berbeda dan dikenali antara terapis dan klien dan harus divalidasi oleh kedua belah pihak.
2.      Klien ketidaksesuaian, atau Kerentanan: klien rentan terhadap ketakutan dan kecemasan yang mencegah mereka meninggalkan hubungan atau situasi dan bahwa ada bukti yang jelas tentang ketidaksesuaian antara apa yang klien menyadari dan pengalaman aktual.
3.      Therapist Kongruensi, atau keaslian: terbukti bahwa terapis diinvestasikan dalam hubungan dengan klien untuk tujuan penyembuhan. Terapis benar-benar tertarik dalam pemulihan mereka dan dapat mengakses pengalaman mereka sendiri sebagai bantuan dalam proses pemulihan.
4.      Terapis Regard Positif Unconditional (UPR): ada unsur yang mengungguli semua orang lain, dan itu adalah unsur penerimaan tanpa syarat. Dengan menyediakan platform keterbukaan dan penerimaan, klien dapat mulai untuk menghilangkan persepsi miring mereka sendiri bahwa mereka dikumpulkan dari orang lain.
5.      Therapist pemahaman empatik: klien merasa empati asli dari terapis berkaitan dengan konstruk internal mereka dan persepsi. Ini perasaan empati membantu memperkuat perasaan cinta tanpa syarat.
6.      Persepsi Klien: persepsi hal positif tanpa syarat dan penerimaan empatik lengkap dan pemahaman yang dirasakan oleh klien, jika bahkan hanya sedikit.
Tujuan utama pendekatan person-centered therapy adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu konseli menjadi pribadi yang utuh, yaitu pribadi yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan dirinya dirinya. Tidak ditetapkan tujuan khusus dalam pemdekatan person-centered, sebab konselor digambarkan memiliki kepercayaan penuh pada konseli untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dari dirinya sendiri.
Secara lebih terperinci, tujuan konseling person-centered adalah :
Ø  Membantu konseli untuk menyadari kenyataan yang terjadi terhadap dirinya
Ø  Membantu konseli untuk membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru
Ø  Menumbuhkan kepercayaan diri konseli
Ø  Membantu konseli membuat keputusan sendiri
Ø  Membantu konseli menyadari bahwa manusia tumbuh dalam suatu proses
Kelebihan Dan Kekurangan Person Centered Therapy
Kelebihan dari terapi ini klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya dan dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi. Kekurangannya: Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal dan terapi menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif.
SUMBER :
http://www.goodtherapy.org/Person_Centered.html
Feist, Jess  & Gregory J, Fest. (2011). Teori kepribadian, edisi 7 buku 2. Jakarta : Salemba Humanika.

Surya, Prof. DR. H. Mohamad. (2003). Teori-teori konseling. Bandung : Pustaka Bani Quraisy

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

Model humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
Pencarian makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien berpusat terapi.
Eksistensial Psychotherapies
Eksistensialis mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas (sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan, meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
    Psikoterapi eksistensial berusaha untuk memahami makna yang unik dari sudut pandang pengalaman klien yang subjektif dari dalam diri individu atau dunia saat fenomenologisnya. Hubungan kolaboratif antara klien dan terapis adalah penyembuhan dalam dirinya sendiri, dan tidak bergantung konseptual pada “repair model” (Walsh & McElwain.2002, p.272).

Pendekatan eksistensial bukanlah bentuk yang paling banyak dipraktekkan psikoterapi, namun para praktisi melihatnya sebagai kontras yang menyegarkan untuk terapi mekanistik lebih  bekerja keras dalam mempromosikannya, mengutip dukungan eksperimental berkembang di beberapa daerah (Cain & Seeman, 2002). Hal ini juga penting dalam mengatur adegan untuk terapi humanistik yang lebih populer, terutama Carl Rogers berpusat pada terapi klien.
Pada dasarnya terapi eksistensial memiliki tujuan untuk meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Dalam buku Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi oleh Gerald Corey pada tahun 1999, terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien menghadapi kecemasan sehubungan dengan pemilihan nilai dan kesadaran bahwa dirinya bukan hanya sekedar korban kekuatan-kekuatan determinisik dari luar dirinya. Terapi eksistensial memiliki cirinya sendiri oleh karena pemahamannya bahwa tugas manusia adalah menciptakan eksistensinya yang bercirikan integritas dan makna.
Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama dari seorang terapis adalah berusaha memahami keberadaan klien dalam dunia yang dimilikinya. Tugas terapis diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaanya dalam dunia: “Ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subyek yang memiliki dunia”. Peran terapis sebagai ”spesialis mata ketimbang pelukis”, yang bertugas memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien.
Penerapan Teknik dan Prosedur Terapeutik
Pendekatan eksistensial pada dasarnya tidak memiliki perangkat teknis yang siap pakai seperti kebanyakan pendekatan lainya. Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik, juga bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode yang berasal dari Gestalt dan analis Transaksional pun sering digunakan. Akan tetapi pada intinya, teknik dari pendekatan ini adalah penggunaan kemampuan dari pribadi terapis itu sendiri.

Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis.
Proses konseling oleh para eksistensial meliputi tiga tahap. Dalam tahap pendahuluan, konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal pencitpaan masalah dalam kehidupan mereka.
Pada tahap pertengahan, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari system mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
Tahap Terakhir berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya.


DAFTAR PUSTAKA


Senin, 27 April 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 3

TERAPI PSIKOANALISA

Psikoanalisis merupakan aliran pertama dari ketiga aliran psikologi yang lain ( Behaviorisme, Humanistis, dan  Transpersonal ). Aliran yang di populerkan oleh Sigmund Freud meruapan salah satu teori kepribadian paling kondang
Konsep Terapi Psikoanalisi :
1)      . Struktur Kepribadian
Ø  Id : Id tak punya kontak dengan dunia nyata, tetapi selalu berupa untuk meredam ketegangan dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar.
Ø  Ego : Satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan realita ego berkembang dari id semasa bayi dan menjadi satu-satunya sumber seseorang dalam komunikasi dalam dunia luar.
Ø  Super Ego : Super ego berbeda dengan ego dalam satu hal penting super ego tak punya kontak dengan dunia luar sehingga tuntutan super ego kesempurnaan pun menjadi tidak realistis.

2)      Kecemasan : Freud ( Feist J. dan Feist G. J., 2010 ) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang akan mengancam. Perasaan yang tidak menyenangkan ini biasanya samar-samar dan sulit di pastikan. tetapi selalu terasa.
Terdapat 3 macam kecemasan :
Ø  Kecemasan Neurosis : Rasa cemasa akibat bahaya yang tidak diketahui. Perasaan itu sendiri berada pada ego, tetapi dari dorongan-dorongan id. Semasa kanak-kanak, perasaan marah sering kali diikuti oleh rasa takut terhadap hukuman dan rasa takut digeneralisasikan kedalam kecemasan neurosis tidak sadar.
Ø  Kecemasan Moral : Berbakar dari konflik antara ego dan superego. Membangun superego biasanya diusia 5 atau 6 tahun. Mengalami kecemasan yang tumbuh dari konflik antara kebutuhan realistis dan perintah superego.
Ø  Kecemasan Realistis :  terkait erat dengan rasa takut. Kecemasaan ini di definiskan sebagai perasaan yang tidak menyenangkan dan tidak spesifik yang mencangkup kemungkinan bahaya itu sendiri.
Unsur-unsur Terapi
1. Tujuan terapi Psikoanalisis
Ø  Memebntuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membantu kesadaran yang tak disadari didalam diri klien
Ø  Fokus pada upaya pengalaman masa anak-anak.
2. Fungsi : Terapis membiarkan dirinya anonym, hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalaman sehingga klien memproyeksikan dirinya kepada terapis
3. Peran Terapis :
Ø  Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasaan secara realistis
Ø  Membangun hubungan personal dalam menangani kecemasan serta realistis
Ø  Membangun hubungan kerja dengan klien, banyak mendengarkan dan menafsirkan
Ø  Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien

Teknik dasar Terapi Psikoanalisis
1.      Asosiasi Bebas : Suatu metode pemanggilan kembali pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu.
2.      Penafsiran : Suatu prosedur dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transeferensi
3.      Analisis Mimpi : Suatu prosedur yang penting untuk menyikapi bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan.
4.      Analisis dan Penafsiran Resistensi : untuk membantu klien agar menyadari alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia biasa menanganinya.
5.      Analisis dan Penafsiran Transferensi : Teknik utama dalam psikoanalisis karena mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lalu dalam terapi.

DAFTARPUSTAKA

Feist, J., dan Feist, G., J. 2010. Teori Kepribadian Edisi 7 Buku 1. Diterjemahi oleh : Handrianto. Jakarta: Salemba Humanika
http://indryawati.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/folder/0.2 ( Diakses pada tanggal : 04/12/15 )

Senin, 30 Maret 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 1



PERBEDAAN ANTARA PSIKOTERAPI DAN KONSELING
DEFINISI PSIKOTERAPI
 Menurut Prawitasari (2002) Psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan,
Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari factor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan professional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara positif.
Ivey & Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan oleh mereka sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.
Psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. Mereka juga mengemukakan bahwa konseling berhubungan dengan rencana jangka panjang yang bersngkut-paut dengan pendidikan dan pekerjaan atau jabatan seseorang serta pencegahan terhadap munculnya gangguan terhadap bidang kesejahteraan mental, sedangkan psikoterapi singkatnya berhubungan dengan tujuan penyembuhan.
Menurut Mowrer (1953), konseling berhubungan dengan usaha mengatasi klien yang mengalami gangguan kecemasan biasa (normal anxiety), sedangkan psikoterapi berusaha menyembuhkan klien atau pasien yang menderita neurosis-kecemasan.
Tyler (1961) mengemukakan bahwa konseling berhubungan dengan proses bantuan terhadap klien agar menumbuhkan identitas, sedangkan psikoterapi berusaha melakukan perubahan pada struktur dasar perkembangannya. Konseling berhubungan dengan penggunaan sumber yang ada, sedangkan psikoterapi berhubungan dengan perubahan kepribadian dan akhirnya Tyler mengatakan bahwa konseling berhubungan dengan masalah-masalah perilaku yang timbul karena peran nya yang ada sedangkan psikoterapi berhubungan dengan konflik yang ada di dalam diri seseorang.
Menurut Wolberg, konseling berhubungan dengan tujuan untuk memberikan support dan mendidik kembali (supportive dan reeducation) sedangkan pada psikoterapi berhubungan dengan tujuan merekonstruksi kepribadian seseorang (reconstructive). Mengenai perbedaan dengan melihat tujuan ini Stefflre & Grant (1972) menyimpulkan bahwa tujuan konseling sepertinya lebih terbatas, lebih melibatkan diri dengan mempengaruhi perkembangan seseorang, dengan situasi sesaat dan dengan usaha membawa seseorang agar bisa berfungsi secara tepat sesuai dengan perannya. Sebaliknya pada psikoterapi tujuannya lebih sentral, tidak hanya memperhatikan saat sekarang melainkan yang akan datang, jadi usaha untuk mengubah struktur kepribadian yang mendasar.
Blocher (1966), membedakan konseling dengan psikoterapi dengan melihat pada tujuannya, secara singkat sebagai berikut :
1.      Pada konseling ; Developmental – educative – preventive.
2.      Pada psikoterapi ; remediative – adjustive – therapeutic.

BENTUK-BENTUK UTAMA DARI TERAPI
TERAPI SUPPORTIVE
adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Terapi suportif menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Tujuan :
Ø  menaikkan fungsi psikologi dan sosial
Ø  menyokong harga dirinya dan keyakina dirinya sebanyak mungkin
Ø  menyadari realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima
Ø  mencegah terjadinya relaps
Ø  bertujuan agar penyesuaian baik
Ø  mencegah ketergantungan pada dokter
Ø  memindahkan dukungan profesional kepada keluarga
Syarat pemberian terapi :
Ø  gangguan bersifat sedang
Ø  kepribadian premorbid pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan diri yang kuat.
Terapi suportif menggunakan sejumlah metoda, baik sendiri-sendiri atau kombinasi, termasuk :
Ø  kepemimpinan yang kuat, hangat, dan ramah
Ø  pemuasan kebutuhan tergantungan
Ø  mendukung perkembangan kemandirian yang sah pada akhirnya
Ø  membantu mengembangkan sublimasi yang menyenangkan (sebagai contohnya, hobi)
Ø  istirahat dan penghiburan yang adekuat
Ø  menghilangkan ketegangan eksternal yang berlebihan.jika mungkin
Ø  perawatan di rumah sakit jika diindikasikan
Ø  medikasi untuk menghilangkan gejala
Ø  bimbingan dan nasehat dalam menghadapi masalah sekarang. Cara ini rnenggunakan teknik yang membantu pasien merasa aman, diterima, terlindungi, terdorong dan tidak merasa cemas.
Macam-macam teknik terapi suportif:
1.      Guidance/Bimbingan, yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta dan interpretasi' dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan bidang-bidang Kesehatan
2.      Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional klien dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak menguntungkan
3.      Eksternalisasi perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami keeeinasan atau depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang pernah disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik,terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi sosial
4.      Sugesti-prestis, yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis tanpa daya kritik
5.      Meyakinkan kembali (reassurance), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien yang merasa dieengkam ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur.Terapis perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar
6.      Dorongan dan paksaan, yakni dengan memberikan ren-'ara' dan punishment untuk menstimulasi perilaku klien sesuai yang diharapkan. Di antaranya dengan cara klien diberi tugas untuk melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau mengurangi intcnsitasnya sampai di bawah titik kritis
7.      Persuasi, yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan ataupun dengan menggunakan common sensenya sendiri, sebab pada umumnya orang yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi
8.      Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain. Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan (katarsis)
9.      Terapi kelompok pemberi inspirasi, yakni terapi kelompok yang terdiri dari klien yang memiliki problem sejenis
TERAPI REEDUCATIVE
Untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
Cara-cara psikoterapi reduktif antara lain :
Ø  terapi hubungan antar manusia (relationship therapy)
Ø  terapi sikap (attitude therapy)
Ø  terapi wawancara (interview therapy)
Ø  analisa dan sinthesa yang distributif (terapi psikobiologik Adolfmeyer)
Ø  konseling terapetik
Ø  terapi case work
Ø  reconditioning
Ø  terapi kelompok yang reduktif
Ø  terapi somatic 2
TERAPI RECONSTRUNCTIVE
Terapi Rekonstruktif yakni menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Terapi ini untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya di alam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luar daripada struktur kepribadian dan pengluasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru.
Tujuan Terapi Rekonstruktif
Perombakan radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.
Cara psikoterapi reconstructive :
Ø  Psikoanalisa Freud
Ø  Psikoanalisa non Freud
Ø  psikoterapi yang berorientasi kepada psikoanalisa

DAFTAR PUSTAKA
Pof.Dr.Gunarsa, D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta. Percetakan PT BPK Gunung Mulia




Kamis, 19 Maret 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 1



PENGERTIAN PSIKOTERAPI
            Psikoterapi merupakan salah satu diantara metode intervensi. Istilah psikoterapi berasal dari dua kata yaitu “psiko” yang berarti kejiwaan atau mental dan “terapi“ yaitu penyembuhan. Prawitasari (dalam Ardani, Rahayu dan sholichatun, 2007) mengatakan bahwa psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan yang lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan.
Psikoterapi bisa dibilang menyembuhkan orang sakit melalui pengaruh hubungan antara seorang dengan orang lain sudah lama dilakukan, banyak yang bilang menyembuhkan orang sakit dengan ilmu gaib, takhayul dan percayaan terhadap kekuatan-kekuatan yang diluar akal manusia. bentuk penyembuhan yang kemudian dikenal dengan psikoterapi
            Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan, treatment terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari factor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan professional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.
            Eysencek (1961), seorang yang dikenal sebagai penentang yang gigih terhadap psikoanalisis, merumuskan psikoterapi dalam beberapa cirri yaitu :
1.      Hubungan antara perorangan yang berlangsung lama.
2.      Melibatkan seorang yang terlatih.
3.      Adanya ketidak puasan pada diri klien tentang sesuatu yang emosional atau penyesuaian diri.
4.      Pemakaian metode psikologi.
5.      Aktivasi yang mendasarkan pada teori tentang kelainan mental.
6.      Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan memperbaiki ketidak puasannya terhadap diri sendiri.
Bahwa membutuhkan waktu yang lebih lama juga dikemukakan oleh Ivey & Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan oleh mereka sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.
TUJUAN PSIKOTERAPI
            Tujuan psikoterapi menurut Ivey, et al (1987) : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
            Tujuan psikoterapi menurut Corey (1991) : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang di tekan melalui pemahaman intelektual.
            Tujuan psikoterapi menurut  Ivey, et al (1987) : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
            Tujuan psikoterapi menurut Corey (1991) : untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.      
UNSUR PSIKOTERAPI
Pendekatan kesehatan jiwa yang integratif menjadi hal yang sangat penting  ketika harus bekerja bersama orang-orang dengan beragam latar belakang kebudayaan. James & Prilleltensky mengambil suatu pendekatan transdisiplin dalam menyediakan suatu kerangka pemahaman dan peningkatan kesehatan jiwa dalam konteks keberagaman budaya, antara lain
  • Filosofis : Visi tentang kehidupan yang baik, orang yang baik, masyarakat yang baik. Agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji.
  • Seorang klien dapat ditanya apakah dia yakin terhadap gagasan liberal, individualisme dan determinasi diri; atau mereka cenderung menjunjung tinggi tradisi masyarakat dan perspektif kolektif. Seorang klien bisa jadi percaya bahwa “orang yang baik” tidak boleh menentang terapis yaitu seorang “pakar”,  sehingga dia tidak akan mau menyatakan bahwa bahwa terapi tersebut tidak ada berguna baginya. Pada budaya yang memandang suatu gangguan jiwa dengan stigma tinggi, “orang yang baik” mestinya tidaklah mencari bantuan kepada orang lain, apalagi ke rumah sakit. Suatu “keluarga yang baik” bisa jadi keluarga dimana masalah-masalah tidak didiskusikan secara terbuka, apalagi dengan orang lain, dan sudah tentu, dengan orang asing, misalnya terapis.
  • Kontekstual : persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap/ tinggal. Keterlibatan ilmuwan social semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sscial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka.
  • Norma sosial dan budaya : pada suatu waktu, masalah-masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan atau kekerasan dalam bentuk terapi individu. Namun saat ini masalah sosial mulai ditangani dalam tingkat masyarakat. Contoh intervensi tingkat masyarakat misalnya intervensi komunitas untuk pencegahan kekerasan.
Sangatlah jelas bahwa bahasa berakar dari konteks. Pada satu konteks, sebuah ekspresi misalnya “ada semut dalam otakku” bisa berarti sebuah delusi. Namun pada masyarakat lain bisa menjadi hanya sebuah kata-kata biasa.
  • Norma Religi/agama : padangan tentang Penyelamatan Dari Penderitaan. Model pendekatan medis sendiri menyatakan bahwa penderitaan tidak ada artinya apa-apa. Namun pandangan religius percaya bahwa penderitaan akan menguatkan ikatan dengan sesama dan dengan Tuhan. Dalam kasus ini, penderitaan adalah kendaraan untuk berkomunikasi.
  • Norma moral : persepsi individu terhadap apa artinya menjadi “orang yang baik” dan “keluarga yang baik”.  Contohnya : dengan kerangka psikoanalisis, seorang yang baik adalah orang yang bisa mengutarakan perasaannya, asertif, mandiri dan penuh pemahaman. Sehingga dengan pendekatan tersebut, terapis sering menjadi frustasi dengan penolakan klien untuk mengisi kuesioner atau aktivitas terapeutik lainnya, dimana hal tersebut bisa saja disebabkan karena hambatan dalam hal bahasa atau perbedaan budaya.
Dalam menyediakan pelayanan untuk masyarakat dengan berbagai budaya, sangatlah penting untuk mempertimbangkan semua aspek dari komunikasi verbal dan non-verbal sehingga dapat menghindari kesalahpahaman dan konflik. Salah paham dapat terjadi bahkan pada orang yang mempunyai bahasa yang sama.
Komunikasi non-verbal telah dipelajari pada masa dini kehidupan, kebanyakan adalah hasil imitasi dan asimilasi. Sehingga seringkali orang tidak menyadari tanda-tanda dari komunikasi non-verbalnya muncul. Kita hanya menjadi sadar kalau terjadi kesalah pahaman. Misalnya :
  • Ruang : berdiri dalam jarak terlalu dekat bisa membuat orang lain tidak nyaman dan merasa adanya agresivitas atau keintiman (tergantung situasinya). Berdiri terlalu jauh bisa menunjukkan ketidakpedulian.
  • Sentuhan : suku-suku tertentu lebih “gemar bersentuhan” dibanding yang lain. Sehingga sentuhan bisa dipahami sebagai cara membuat suatu hubungan yang baik atau justru mengakibatkan adanya rasa tidak nyaman dan reaksi negatif.
  • Berjabat tangan : jabat tangan yang erat menandakan adanya ketulusan atau kejujuran namun bisa jadi suatu tanda agresivitas. Jabat tangan yang lembut bisa dipahami sebagai sikap tubuh yang yang damai, tapi juga bisa menunjukkan kurangnya komitmen atau minat. Dalam beberapa budaya, bersalaman dengan jenis kelamin lain tidak diterima.
  • Diam : Individu yang berasal dari budaya tertentu cenderung merasa tidak nyaman ketika kelompoknya diam. Namun dalam budaya lain, perilaku tersebut diterima dan bahkan menunjukkan kemampuan refleksi diri serta menghormati orang lain. Dalam budaya seperti ini, orang yang tidak bisa diam/banyak bicara dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.
  • Kontak mata : membuat suatu kontak mata bisa menunjukkan adanya suatu kejujuran atau minat. Namun dalam budaya tertentu menghindari kontak mata justru menjadi tanda bahwa orang tersebut menghormati lawan bicaranya.
  • Senyum dan tawa : senyum dan tawa dapat dimaknai secara berbeda. Bisa menjadi tanda kebahagiaan dan kesenangan, terkejut, malu, marah, kebingungan, permintaan maaf, atau bahkan kesedihan. Hal tersebut tergantung pada budaya masing-masing.
  • Bahasa tubuh dengan tangan, lengan dan kaki : bahasa tubuh mempunyai makna yang berbeda-beda. Berkacak pinggang bisa berarti posisi siap untuk mempertahankan diri; tangan yang masuk saku atau menunjuk dengan jari telunjuk bisa dianggap tidak sopan; menunjukkan telapak kaki atau sepatu bisa dianggap penghinaan.
Aliansi Nasional untuk Gangguan Jiwa (NAMI/ National Alliance for Mental Illness) menyarankan adanya langkah-langkah di bawah ini untuk merangkul berbagai budaya yang beragam dalam tujuan untuk menjamin adanya suatu akses yang  setara untuk pendidikan dan pengobatan.
  1. Mengidentifikasi kelompok sasaran : bila kelompok sudah diidentifikasi, segeralah belajar mengenai karakteristik dan sejarah kelompok tersebut. Menyelenggarakan riset terhadap keyakinan kelompok tersebut mengenai gangguan jiwa sangatlah berguna.
  2. Mengindentifikasi pemimpin atau tokoh masyarakat setempat : Lakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan ajaklah untuk berperan / menjadi partner dapat menggambarkan kebutuhan masyarakat setempat dan sekaligus merangkul masyarakat. Karena keberadaan mereka sangat dihormati masyarakat, mereka akan bisa memfasilitasi akses, kepercayaan, dan perhatian dari masyarakat terhadap program Anda.
  3. Mengidentifikasi organisasi masyarakat yang sudah ada : bekerja sama dengan organisasi masyarakat yang besar bisa menjadikan suatu kekuatan terpadu yang dapat meningkatkan kemungkinan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
  4. Memutuskan fokus utama dari aktivitas : Dalam menunjukkan suatu aktivitas, kita bisa dibantu dengan beberapa metode, misalnya pamflet dan buklet dengan bahasa setempat, membentuk support group yang spesifik dalam masyarakat, meningkatkan adanya anggota yang beragam, dan pendekatan terhadap instansi pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk pelayanan kesehatan jiwa untuk masyarakat yang spesifik.
  5. Penyebaran dan publisitas : bekerja dengan organisasi masyarakat, misalnya organisasi agama, kesukuan, sekolah, remaja klinik atau organisasi lainnya. Buatlah kan sebuah konferensi press, pengumuman adanya pelayanan, atau artikel di koran dan tekankan pada adanya kerja atau pelayanan yang sesuai dengan budaya setempat.

SUMBER
Pof.Dr.Gunarsa, D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta. Percetakan PT BPK Gunung Mulia