Model
humanistik kepribadian, psikopatologi, dan psikoterapi awalnya menarik sebagian
besar konsep-konsep dari filsafat eksistensial, menekankan kebebasan bawaan
manusia untuk memilih, bertanggung jawab atas pilihan mereka, dan hidup sangat
banyak pada saat ini. Hidup sehat di sini dan sekarang menghadapkan kita dengan
realitas eksistensial menjadi, kebebasan, tanggung jawab, dan pilihan, serta
merenungkan eksistensi yang pada gilirannya memaksa kita untuk menghadapi
kemungkinan pernah hadir ketiadaan.
Pencarian
makna dalam kehidupan masing-masing individu adalah tujuan utama dan aspirasi
tertinggi. Pendekatan humanistik kontemporer psikoterapi berasal dari tiga
sekolah pemikiran yang muncul pada 1950-an, eksistensial, Gestalt, dan klien
berpusat terapi.
Eksistensial
Psychotherapies
Eksistensialis
mencari makna eksistensi manusia, dan menekankan pilihan dan individualitas
(sebagai lawan dari gagasan bahwa perilaku kita ditentukan dalam beberapa cara
mekanistik). Martin Heidegger (1889-1976) biasanya disebut sebagai tokoh
filsafat eksistensial modern. Dalam pandangan Heidegger, eksistensi manusia
adalah proses, terus berkembang untuk setiap individu. Tidak statis, tapi
selalu menjadi sesuatu yang berbeda (Hergenhahn, 1992). Unsur-unsur filsafat
eksistensial terlihat dalam bentuk psikoterapi yang dikembangkan oleh Ludrvig
Binswanger dan lain-lain
Psikoterapis
eksistensial fokus pada tema penting dari kehidupan dan masalah klien, tetapi
penekanannya adalah pada kualitas hubungan terapeutik itu sendiri sebagai agen
penting dari perubahan. Tugas psikoterapi eksistensial adalah menantang klien
untuk memeriksa kehidupan mereka dan mempertimbangkan bagaimana kebebasan
mereka terganggu. Yang membantu mereka untuk menghilangkan hambatan,
meningkatkan rasa pilihan mereka, dan mengerahkan keinginan mereka.
Psikoterapi eksistensial berusaha untuk
memahami makna yang unik dari sudut pandang pengalaman klien yang subjektif
dari dalam diri individu atau dunia saat fenomenologisnya. Hubungan kolaboratif
antara klien dan terapis adalah penyembuhan dalam dirinya sendiri, dan tidak
bergantung konseptual pada “repair model” (Walsh & McElwain.2002, p.272).
Pendekatan
eksistensial bukanlah bentuk yang paling banyak dipraktekkan psikoterapi, namun
para praktisi melihatnya sebagai kontras yang menyegarkan untuk terapi
mekanistik lebih bekerja keras dalam
mempromosikannya, mengutip dukungan eksperimental berkembang di beberapa daerah
(Cain & Seeman, 2002). Hal ini juga penting dalam mengatur adegan untuk
terapi humanistik yang lebih populer, terutama Carl Rogers berpusat pada terapi
klien.
Pada
dasarnya terapi eksistensial memiliki tujuan untuk meluaskan kesadaran diri
klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni bebas dan
bertanggung jawab atas arah hidupnya.
Dalam
buku Teori dan Praktek Konseling Psikoterapi oleh Gerald Corey pada tahun 1999,
terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien menghadapi kecemasan
sehubungan dengan pemilihan nilai dan kesadaran bahwa dirinya bukan hanya
sekedar korban kekuatan-kekuatan determinisik dari luar dirinya. Terapi
eksistensial memiliki cirinya sendiri oleh karena pemahamannya bahwa tugas
manusia adalah menciptakan eksistensinya yang bercirikan integritas dan makna.
Fungsi
dan Peran Terapis
Tugas
utama dari seorang terapis adalah berusaha memahami keberadaan klien dalam
dunia yang dimilikinya. Tugas terapis diantaranya adalah membantu klien agar
menyadari keberadaanya dalam dunia: “Ini adalah saat ketika pasien melihat
dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancam dan
sebagai subyek yang memiliki dunia”. Peran terapis sebagai ”spesialis mata
ketimbang pelukis”, yang bertugas memperluas dan memperlebar lapangan visual
pasien.
Penerapan
Teknik dan Prosedur Terapeutik
Pendekatan
eksistensial pada dasarnya tidak memiliki perangkat teknis yang siap pakai
seperti kebanyakan pendekatan lainya. Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa
teknik dan konsep psikoanalitik, juga bisa menggunakan teknik
kognitif-behavioral. Metode yang berasal dari Gestalt dan analis Transaksional
pun sering digunakan. Akan tetapi pada intinya, teknik dari pendekatan ini
adalah penggunaan kemampuan dari pribadi terapis itu sendiri.
Pada saat terapis
menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik
berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari
ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis.
Proses
konseling oleh para eksistensial meliputi tiga tahap. Dalam tahap pendahuluan,
konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi
mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi
mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka
dan meneliti peran mereka dalam hal pencitpaan masalah dalam kehidupan mereka.
Pada
tahap pertengahan, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti
sumber dan otoritas dari system mereka. Semangat ini akan memberikan klien
pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai
kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
Tahap
Terakhir berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari
tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan
jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani
eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial,
teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka,
serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar