Sabtu, 19 Juli 2014

Persepsi Negatif Terhadap Perempuan Bercadar Hitam


Sejak tahun 1980-an tampak fenomena-fenomena yang mengindikasikan menguatnya religious umat islam. Bahwa diantara fenomena-fenomena yang menunjukan peningkatan religiusitas umat islam di Indonesia ini salah satunya muncul dalam bentuk merebaknya penggunaan busana islam. Salah satu fenomena menarik terkait dengan merebaknya penggunaan busana islami adalah penggunaan cadar dikalangan muslimah.
Sudah tidak heran jika kita melihat seorang wanita berhijab dengan menggunakan cadar di Negara lain seperti di Negara Saudi Arabia, sebaliknya di Indonesia. Indonesia sangat tabu dengan sosok wanita yang bercadar sampai menutupi seluruh badan kecuali mata. Cadar dalam islam adalah jilbab yang tebal dan longgar dan cadar pun hanya untuk menutup aurat perempuan itu sajah.


            Di sisi lain, bila kita lihat dari sudut pandang psikologis perempuan memiliki kecenderungan untuk menarik perhatian lawan jenis untuk memenuhi kebutuhan tahap perkembangannya.  Hyde dan Rosenberg , mengungkapkan bahwa semenjak pubertal perempuan telah mendapatkan sosialisasi dari masyarakat bahwa terdapat kelebihan dari bentuk tubuh perepuan yang menjanjikan penerimaan lingkungan, popularitas dan cinta. Ketika perempuan tengah menginjak masa dewasa akan timbul kebutuhan seksualitas yang mendalam,  dimana hal ini tidak mungkin akan terwujud bila ia tidak mampu untuk menarik lawan jenisnya yang biasa dilakukan dengan menggunakan pakaian yang menarik atau berdandan.
            Dalam konteks sosial, keberadaan perempuan bercadar masih belum dapat diterima secara penuh oleh masyarakat. Terhadap persepsi sosial yang negative terhadap perilaku bercadar yang mereka lakukan. Kondisi yang berkembang saat ini juga menempatkan cadar lekat dengan fenomena teroris ataupun gerakan-gerakan islam radikal. Fenomena radikalisme kegamaan dulu berupa terror peledakan yang melambungkan beberapa nama seperti Amrozi, Imam Samudra dan Ali Imron, kerap menyisikan sosok perempuan bercadar yang berada dibalik mereka. Dengan dasar inilah kemudian sebagian masyarakat mengasosiasikan keberadaan setiap perempuan bercadar dengan teroris. Sikap yang ditunjukan oleh masyarakat ini disebut oleh Baron dan Byrne, dengan istilah prasangka. Telah terbentuk sebuah prasangka yang negative dalam masyarakat terhadap perempuan bercadar atau dengan kata lain timbul sikap negative sebagian masyarakat terhadap perempuan bercadar dikarenakan keberadaan yang dianggap sebagain dari kelompok teroris.


            Sementara itu sebagian masyarakat juga merasa bahwa keberadaan perempuan bercadar mengganggu proses integrasi sosial, mereka beranggapan bahwa alasan di balik penggunaan cadar oleh muslimah adalah keengganan mereka untuk bersosialisasi dengan masyarakat, cadar dikaitkan dengan symbol penolakan seorang individu untuk bergabung dengan masyarakat.
            Dalam hal ini telah terjadi sebuah pemberian atribusi sosial yang negative terhadap para perempuan bercadar. Atribusi yang dilakukan mencoba untuk mencari alasan dibalik penggunaan cadar bagi seorang perempuan muslimah. Myres, menyebutkan bahwa atribusi terjadi dikarenakan kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk alasan di balik perilaku orang lain, dalam hal ini penggunaan cadar bagi seorang muslimah.
            Dengan adanya persepsi, prasangka dan pemberian atribusi sosial yang negative terhadap keberadaan perempuan bercadar, maka jelas mereka akan mengalami kesulitan untuk bergabung dan bersosialisasi dalam masyarakat. Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri mengingat pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang memebutuhkan orang lain. Dimana menurut Erikson (dalam Wiliams) seorang individu pada tahapan perkembangan ini mulai membuat komitmen hubungan dengan orang lain. Ketika hubungan yang dijalin dengan oranglain tidak berhasil, individu akan merasakan dirinya terisolasi dari lingkungannya. Bila seorang perempuan dewasa muda bercadar sulit untuk bergaul dengan lingkungan sosialnya maka ia tidak akan mampu untuk menjalin hubungan sosialnya dengan orang lain segngga kebutuhan psikologisnya tidak akan terpenuhi dan pada akhirnya menjadi individu yang selalu merasa sendirian.



            Selain itu perempuan dewasa muda juga sedang berada dalam tahap pemilihan pendidikan dan pengembangan karir. Menurut Hyde dan Rosenberg, paradigm yang berkembang di masyarakat saat ini mendorong seorang istri untuk juga bekerja keluar rumah dibandingkan hanya menjadi ibu rumah tangga. Hal ini dikarenakan pemberian nilai yang rendah oleh masyarakat terhadap seorang perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Schacter-Singer teori ini berpendapat bahwa emosi yang dialamo seseorang berasal dari interpretasi terhadap keadaan jasmani yang bangkit/siaga.

DAFTAR PUSTAKA

Basuki,Heru.(2008).Psikologi Umum.Jakarta.Universitas Gunadarma.