Kamis, 19 Maret 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 1



PENGERTIAN PSIKOTERAPI
            Psikoterapi merupakan salah satu diantara metode intervensi. Istilah psikoterapi berasal dari dua kata yaitu “psiko” yang berarti kejiwaan atau mental dan “terapi“ yaitu penyembuhan. Prawitasari (dalam Ardani, Rahayu dan sholichatun, 2007) mengatakan bahwa psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan yang lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan.
Psikoterapi bisa dibilang menyembuhkan orang sakit melalui pengaruh hubungan antara seorang dengan orang lain sudah lama dilakukan, banyak yang bilang menyembuhkan orang sakit dengan ilmu gaib, takhayul dan percayaan terhadap kekuatan-kekuatan yang diluar akal manusia. bentuk penyembuhan yang kemudian dikenal dengan psikoterapi
            Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan, treatment terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari factor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan professional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.
            Eysencek (1961), seorang yang dikenal sebagai penentang yang gigih terhadap psikoanalisis, merumuskan psikoterapi dalam beberapa cirri yaitu :
1.      Hubungan antara perorangan yang berlangsung lama.
2.      Melibatkan seorang yang terlatih.
3.      Adanya ketidak puasan pada diri klien tentang sesuatu yang emosional atau penyesuaian diri.
4.      Pemakaian metode psikologi.
5.      Aktivasi yang mendasarkan pada teori tentang kelainan mental.
6.      Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan memperbaiki ketidak puasannya terhadap diri sendiri.
Bahwa membutuhkan waktu yang lebih lama juga dikemukakan oleh Ivey & Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan oleh mereka sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.
TUJUAN PSIKOTERAPI
            Tujuan psikoterapi menurut Ivey, et al (1987) : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
            Tujuan psikoterapi menurut Corey (1991) : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang di tekan melalui pemahaman intelektual.
            Tujuan psikoterapi menurut  Ivey, et al (1987) : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
            Tujuan psikoterapi menurut Corey (1991) : untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.      
UNSUR PSIKOTERAPI
Pendekatan kesehatan jiwa yang integratif menjadi hal yang sangat penting  ketika harus bekerja bersama orang-orang dengan beragam latar belakang kebudayaan. James & Prilleltensky mengambil suatu pendekatan transdisiplin dalam menyediakan suatu kerangka pemahaman dan peningkatan kesehatan jiwa dalam konteks keberagaman budaya, antara lain
  • Filosofis : Visi tentang kehidupan yang baik, orang yang baik, masyarakat yang baik. Agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji.
  • Seorang klien dapat ditanya apakah dia yakin terhadap gagasan liberal, individualisme dan determinasi diri; atau mereka cenderung menjunjung tinggi tradisi masyarakat dan perspektif kolektif. Seorang klien bisa jadi percaya bahwa “orang yang baik” tidak boleh menentang terapis yaitu seorang “pakar”,  sehingga dia tidak akan mau menyatakan bahwa bahwa terapi tersebut tidak ada berguna baginya. Pada budaya yang memandang suatu gangguan jiwa dengan stigma tinggi, “orang yang baik” mestinya tidaklah mencari bantuan kepada orang lain, apalagi ke rumah sakit. Suatu “keluarga yang baik” bisa jadi keluarga dimana masalah-masalah tidak didiskusikan secara terbuka, apalagi dengan orang lain, dan sudah tentu, dengan orang asing, misalnya terapis.
  • Kontekstual : persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap/ tinggal. Keterlibatan ilmuwan social semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sscial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka.
  • Norma sosial dan budaya : pada suatu waktu, masalah-masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan atau kekerasan dalam bentuk terapi individu. Namun saat ini masalah sosial mulai ditangani dalam tingkat masyarakat. Contoh intervensi tingkat masyarakat misalnya intervensi komunitas untuk pencegahan kekerasan.
Sangatlah jelas bahwa bahasa berakar dari konteks. Pada satu konteks, sebuah ekspresi misalnya “ada semut dalam otakku” bisa berarti sebuah delusi. Namun pada masyarakat lain bisa menjadi hanya sebuah kata-kata biasa.
  • Norma Religi/agama : padangan tentang Penyelamatan Dari Penderitaan. Model pendekatan medis sendiri menyatakan bahwa penderitaan tidak ada artinya apa-apa. Namun pandangan religius percaya bahwa penderitaan akan menguatkan ikatan dengan sesama dan dengan Tuhan. Dalam kasus ini, penderitaan adalah kendaraan untuk berkomunikasi.
  • Norma moral : persepsi individu terhadap apa artinya menjadi “orang yang baik” dan “keluarga yang baik”.  Contohnya : dengan kerangka psikoanalisis, seorang yang baik adalah orang yang bisa mengutarakan perasaannya, asertif, mandiri dan penuh pemahaman. Sehingga dengan pendekatan tersebut, terapis sering menjadi frustasi dengan penolakan klien untuk mengisi kuesioner atau aktivitas terapeutik lainnya, dimana hal tersebut bisa saja disebabkan karena hambatan dalam hal bahasa atau perbedaan budaya.
Dalam menyediakan pelayanan untuk masyarakat dengan berbagai budaya, sangatlah penting untuk mempertimbangkan semua aspek dari komunikasi verbal dan non-verbal sehingga dapat menghindari kesalahpahaman dan konflik. Salah paham dapat terjadi bahkan pada orang yang mempunyai bahasa yang sama.
Komunikasi non-verbal telah dipelajari pada masa dini kehidupan, kebanyakan adalah hasil imitasi dan asimilasi. Sehingga seringkali orang tidak menyadari tanda-tanda dari komunikasi non-verbalnya muncul. Kita hanya menjadi sadar kalau terjadi kesalah pahaman. Misalnya :
  • Ruang : berdiri dalam jarak terlalu dekat bisa membuat orang lain tidak nyaman dan merasa adanya agresivitas atau keintiman (tergantung situasinya). Berdiri terlalu jauh bisa menunjukkan ketidakpedulian.
  • Sentuhan : suku-suku tertentu lebih “gemar bersentuhan” dibanding yang lain. Sehingga sentuhan bisa dipahami sebagai cara membuat suatu hubungan yang baik atau justru mengakibatkan adanya rasa tidak nyaman dan reaksi negatif.
  • Berjabat tangan : jabat tangan yang erat menandakan adanya ketulusan atau kejujuran namun bisa jadi suatu tanda agresivitas. Jabat tangan yang lembut bisa dipahami sebagai sikap tubuh yang yang damai, tapi juga bisa menunjukkan kurangnya komitmen atau minat. Dalam beberapa budaya, bersalaman dengan jenis kelamin lain tidak diterima.
  • Diam : Individu yang berasal dari budaya tertentu cenderung merasa tidak nyaman ketika kelompoknya diam. Namun dalam budaya lain, perilaku tersebut diterima dan bahkan menunjukkan kemampuan refleksi diri serta menghormati orang lain. Dalam budaya seperti ini, orang yang tidak bisa diam/banyak bicara dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.
  • Kontak mata : membuat suatu kontak mata bisa menunjukkan adanya suatu kejujuran atau minat. Namun dalam budaya tertentu menghindari kontak mata justru menjadi tanda bahwa orang tersebut menghormati lawan bicaranya.
  • Senyum dan tawa : senyum dan tawa dapat dimaknai secara berbeda. Bisa menjadi tanda kebahagiaan dan kesenangan, terkejut, malu, marah, kebingungan, permintaan maaf, atau bahkan kesedihan. Hal tersebut tergantung pada budaya masing-masing.
  • Bahasa tubuh dengan tangan, lengan dan kaki : bahasa tubuh mempunyai makna yang berbeda-beda. Berkacak pinggang bisa berarti posisi siap untuk mempertahankan diri; tangan yang masuk saku atau menunjuk dengan jari telunjuk bisa dianggap tidak sopan; menunjukkan telapak kaki atau sepatu bisa dianggap penghinaan.
Aliansi Nasional untuk Gangguan Jiwa (NAMI/ National Alliance for Mental Illness) menyarankan adanya langkah-langkah di bawah ini untuk merangkul berbagai budaya yang beragam dalam tujuan untuk menjamin adanya suatu akses yang  setara untuk pendidikan dan pengobatan.
  1. Mengidentifikasi kelompok sasaran : bila kelompok sudah diidentifikasi, segeralah belajar mengenai karakteristik dan sejarah kelompok tersebut. Menyelenggarakan riset terhadap keyakinan kelompok tersebut mengenai gangguan jiwa sangatlah berguna.
  2. Mengindentifikasi pemimpin atau tokoh masyarakat setempat : Lakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan ajaklah untuk berperan / menjadi partner dapat menggambarkan kebutuhan masyarakat setempat dan sekaligus merangkul masyarakat. Karena keberadaan mereka sangat dihormati masyarakat, mereka akan bisa memfasilitasi akses, kepercayaan, dan perhatian dari masyarakat terhadap program Anda.
  3. Mengidentifikasi organisasi masyarakat yang sudah ada : bekerja sama dengan organisasi masyarakat yang besar bisa menjadikan suatu kekuatan terpadu yang dapat meningkatkan kemungkinan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
  4. Memutuskan fokus utama dari aktivitas : Dalam menunjukkan suatu aktivitas, kita bisa dibantu dengan beberapa metode, misalnya pamflet dan buklet dengan bahasa setempat, membentuk support group yang spesifik dalam masyarakat, meningkatkan adanya anggota yang beragam, dan pendekatan terhadap instansi pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk pelayanan kesehatan jiwa untuk masyarakat yang spesifik.
  5. Penyebaran dan publisitas : bekerja dengan organisasi masyarakat, misalnya organisasi agama, kesukuan, sekolah, remaja klinik atau organisasi lainnya. Buatlah kan sebuah konferensi press, pengumuman adanya pelayanan, atau artikel di koran dan tekankan pada adanya kerja atau pelayanan yang sesuai dengan budaya setempat.

SUMBER
Pof.Dr.Gunarsa, D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta. Percetakan PT BPK Gunung Mulia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar