PERBEDAAN
ANTARA PSIKOTERAPI DAN KONSELING
DEFINISI PSIKOTERAPI
Menurut
Prawitasari (2002) Psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang
atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan lainnya sebagai
“yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan,
Wolberg
(1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan
terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari factor emosi pada mana seorang
yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan professional dengan pasien
dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom
tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan
pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara positif.
Ivey
& Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses
jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan
yang lebih besar pada struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan
oleh mereka sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya
membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.
Psikoterapi
terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani
usaha pencegahannya. Mereka juga mengemukakan bahwa konseling berhubungan
dengan rencana jangka panjang yang bersngkut-paut dengan pendidikan dan
pekerjaan atau jabatan seseorang serta pencegahan terhadap munculnya gangguan
terhadap bidang kesejahteraan mental, sedangkan psikoterapi singkatnya
berhubungan dengan tujuan penyembuhan.
Menurut
Mowrer (1953), konseling berhubungan dengan usaha mengatasi klien yang
mengalami gangguan kecemasan biasa (normal anxiety), sedangkan psikoterapi
berusaha menyembuhkan klien atau pasien yang menderita neurosis-kecemasan.
Tyler
(1961) mengemukakan bahwa konseling berhubungan dengan proses bantuan terhadap
klien agar menumbuhkan identitas, sedangkan psikoterapi berusaha melakukan
perubahan pada struktur dasar perkembangannya. Konseling berhubungan dengan
penggunaan sumber yang ada, sedangkan psikoterapi berhubungan dengan perubahan
kepribadian dan akhirnya Tyler mengatakan bahwa konseling berhubungan dengan
masalah-masalah perilaku yang timbul karena peran nya yang ada sedangkan
psikoterapi berhubungan dengan konflik yang ada di dalam diri seseorang.
Menurut
Wolberg, konseling berhubungan dengan tujuan untuk memberikan support dan
mendidik kembali (supportive dan reeducation) sedangkan pada psikoterapi
berhubungan dengan tujuan merekonstruksi kepribadian seseorang
(reconstructive). Mengenai perbedaan dengan melihat tujuan ini Stefflre &
Grant (1972) menyimpulkan bahwa tujuan konseling sepertinya lebih terbatas,
lebih melibatkan diri dengan mempengaruhi perkembangan seseorang, dengan
situasi sesaat dan dengan usaha membawa seseorang agar bisa berfungsi secara
tepat sesuai dengan perannya. Sebaliknya pada psikoterapi tujuannya lebih
sentral, tidak hanya memperhatikan saat sekarang melainkan yang akan datang,
jadi usaha untuk mengubah struktur kepribadian yang mendasar.
Blocher
(1966), membedakan konseling dengan psikoterapi dengan melihat pada tujuannya,
secara singkat sebagai berikut :
1. Pada
konseling ; Developmental – educative –
preventive.
2. Pada
psikoterapi ; remediative – adjustive –
therapeutic.
BENTUK-BENTUK
UTAMA DARI TERAPI
TERAPI SUPPORTIVE
adalah suatu bentuk
terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi
dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu
kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Terapi suportif menawarkan
dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama periode
penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga memiliki
tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan
kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan
dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa
bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasi atau tekanan
eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Tujuan :
Ø menaikkan
fungsi psikologi dan sosial
Ø menyokong
harga dirinya dan keyakina dirinya sebanyak mungkin
Ø menyadari
realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima
Ø mencegah
terjadinya relaps
Ø bertujuan
agar penyesuaian baik
Ø mencegah
ketergantungan pada dokter
Ø memindahkan
dukungan profesional kepada keluarga
Syarat pemberian terapi
:
Ø gangguan
bersifat sedang
Ø kepribadian
premorbid pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan diri yang kuat.
Terapi suportif
menggunakan sejumlah metoda, baik sendiri-sendiri atau kombinasi, termasuk :
Ø kepemimpinan
yang kuat, hangat, dan ramah
Ø pemuasan
kebutuhan tergantungan
Ø mendukung
perkembangan kemandirian yang sah pada akhirnya
Ø membantu
mengembangkan sublimasi yang menyenangkan (sebagai contohnya, hobi)
Ø istirahat
dan penghiburan yang adekuat
Ø menghilangkan
ketegangan eksternal yang berlebihan.jika mungkin
Ø perawatan
di rumah sakit jika diindikasikan
Ø medikasi
untuk menghilangkan gejala
Ø bimbingan
dan nasehat dalam menghadapi masalah sekarang. Cara ini rnenggunakan teknik
yang membantu pasien merasa aman, diterima, terlindungi, terdorong dan tidak
merasa cemas.
Macam-macam teknik
terapi suportif:
1.
Guidance/Bimbingan, yakni prosedur
pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta dan
interpretasi' dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan
bidang-bidang Kesehatan
2.
Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk
menyelesaikan problem-problem emosional klien dengan cara menghilangkan atau
mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak menguntungkan
3.
Eksternalisasi perhatian, yakni usaha
untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami keeeinasan atau depresi dengan
jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang pernah
disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu
senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja,
terapi musik,terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi sosial
4.
Sugesti-prestis, yakni usaha terapis
untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis tanpa daya kritik
5.
Meyakinkan kembali (reassurance), terapi
ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien yang merasa dieengkam
ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur.Terapis perlu
mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya untuk
menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar
6.
Dorongan dan paksaan, yakni dengan
memberikan ren-'ara' dan punishment untuk menstimulasi perilaku klien sesuai
yang diharapkan. Di antaranya dengan cara klien diberi tugas untuk melawan
impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau mengurangi
intcnsitasnya sampai di bawah titik kritis
7.
Persuasi, yakni mendasari diri pada
anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu kekuatan untuk proses
emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan ataupun dengan
menggunakan common sensenya sendiri, sebab pada umumnya orang yang menderita
gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi
8.
Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan
cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain. Pendekatan ini untuk mengurangi
tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya pengakuan dan penyaluran maka
segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan (katarsis)
9.
Terapi kelompok pemberi inspirasi, yakni
terapi kelompok yang terdiri dari klien yang memiliki problem sejenis
TERAPI REEDUCATIVE
Untuk
mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam
sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan
membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
Cara-cara psikoterapi
reduktif antara lain :
Ø terapi
hubungan antar manusia (relationship therapy)
Ø terapi
sikap (attitude therapy)
Ø terapi
wawancara (interview therapy)
Ø analisa
dan sinthesa yang distributif (terapi psikobiologik Adolfmeyer)
Ø konseling
terapetik
Ø terapi
case work
Ø reconditioning
Ø terapi
kelompok yang reduktif
Ø terapi
somatic 2
TERAPI RECONSTRUNCTIVE
Terapi
Rekonstruktif yakni menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi
bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Terapi ini untuk
mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya di alam tak sadar,
dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luar daripada struktur
kepribadian dan pengluasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi
penyesuaian diri yang baru.
Tujuan Terapi
Rekonstruktif
Perombakan
radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian
diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan
emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.
Cara psikoterapi
reconstructive :
Ø Psikoanalisa
Freud
Ø Psikoanalisa
non Freud
Ø psikoterapi
yang berorientasi kepada psikoanalisa
DAFTAR
PUSTAKA
Pof.Dr.Gunarsa, D. (1996).
Konseling dan Psikoterapi. Jakarta. Percetakan PT BPK Gunung Mulia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar