Senin, 30 Maret 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 1



PERBEDAAN ANTARA PSIKOTERAPI DAN KONSELING
DEFINISI PSIKOTERAPI
 Menurut Prawitasari (2002) Psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan,
Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari factor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan professional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara positif.
Ivey & Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan oleh mereka sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.
Psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru kemudian menangani usaha pencegahannya. Mereka juga mengemukakan bahwa konseling berhubungan dengan rencana jangka panjang yang bersngkut-paut dengan pendidikan dan pekerjaan atau jabatan seseorang serta pencegahan terhadap munculnya gangguan terhadap bidang kesejahteraan mental, sedangkan psikoterapi singkatnya berhubungan dengan tujuan penyembuhan.
Menurut Mowrer (1953), konseling berhubungan dengan usaha mengatasi klien yang mengalami gangguan kecemasan biasa (normal anxiety), sedangkan psikoterapi berusaha menyembuhkan klien atau pasien yang menderita neurosis-kecemasan.
Tyler (1961) mengemukakan bahwa konseling berhubungan dengan proses bantuan terhadap klien agar menumbuhkan identitas, sedangkan psikoterapi berusaha melakukan perubahan pada struktur dasar perkembangannya. Konseling berhubungan dengan penggunaan sumber yang ada, sedangkan psikoterapi berhubungan dengan perubahan kepribadian dan akhirnya Tyler mengatakan bahwa konseling berhubungan dengan masalah-masalah perilaku yang timbul karena peran nya yang ada sedangkan psikoterapi berhubungan dengan konflik yang ada di dalam diri seseorang.
Menurut Wolberg, konseling berhubungan dengan tujuan untuk memberikan support dan mendidik kembali (supportive dan reeducation) sedangkan pada psikoterapi berhubungan dengan tujuan merekonstruksi kepribadian seseorang (reconstructive). Mengenai perbedaan dengan melihat tujuan ini Stefflre & Grant (1972) menyimpulkan bahwa tujuan konseling sepertinya lebih terbatas, lebih melibatkan diri dengan mempengaruhi perkembangan seseorang, dengan situasi sesaat dan dengan usaha membawa seseorang agar bisa berfungsi secara tepat sesuai dengan perannya. Sebaliknya pada psikoterapi tujuannya lebih sentral, tidak hanya memperhatikan saat sekarang melainkan yang akan datang, jadi usaha untuk mengubah struktur kepribadian yang mendasar.
Blocher (1966), membedakan konseling dengan psikoterapi dengan melihat pada tujuannya, secara singkat sebagai berikut :
1.      Pada konseling ; Developmental – educative – preventive.
2.      Pada psikoterapi ; remediative – adjustive – therapeutic.

BENTUK-BENTUK UTAMA DARI TERAPI
TERAPI SUPPORTIVE
adalah suatu bentuk terapi alternatif yang mempunyai tujuan untuk menolong pasien beradaptasi dengan baik terhadap suatu masalah yang dihadapi dan untuk mendapatkan suatu kenyamanan hidup terhadap gangguan psikisnya. Terapi suportif menawarkan dukungan kepada pasien oleh seorang tokoh yang berkuasa selama periode penyakit, kekacauan atau dekompensasi sementara. Pendekatan ini juga memiliki tujuan untuk memulihkan dan memperkuat pertahanan pasien dan mengintegrasikan kapasitas yang telah terganggu. Cara ini memberikan suatu periode penerimaan dan ketergantungan bagi pasien yang membutuhkan bantuan untuk menghadapi rasa bersalah, malu dan kecemasan dan dalam menghadapi frustasi atau tekanan eksternal yang mungkin terlalu kuat untuk dihadapi.
Tujuan :
Ø  menaikkan fungsi psikologi dan sosial
Ø  menyokong harga dirinya dan keyakina dirinya sebanyak mungkin
Ø  menyadari realitas, keterbatasannya, agar dapat diterima
Ø  mencegah terjadinya relaps
Ø  bertujuan agar penyesuaian baik
Ø  mencegah ketergantungan pada dokter
Ø  memindahkan dukungan profesional kepada keluarga
Syarat pemberian terapi :
Ø  gangguan bersifat sedang
Ø  kepribadian premorbid pasien yang kuat disertai dengan adanya pemulihan diri yang kuat.
Terapi suportif menggunakan sejumlah metoda, baik sendiri-sendiri atau kombinasi, termasuk :
Ø  kepemimpinan yang kuat, hangat, dan ramah
Ø  pemuasan kebutuhan tergantungan
Ø  mendukung perkembangan kemandirian yang sah pada akhirnya
Ø  membantu mengembangkan sublimasi yang menyenangkan (sebagai contohnya, hobi)
Ø  istirahat dan penghiburan yang adekuat
Ø  menghilangkan ketegangan eksternal yang berlebihan.jika mungkin
Ø  perawatan di rumah sakit jika diindikasikan
Ø  medikasi untuk menghilangkan gejala
Ø  bimbingan dan nasehat dalam menghadapi masalah sekarang. Cara ini rnenggunakan teknik yang membantu pasien merasa aman, diterima, terlindungi, terdorong dan tidak merasa cemas.
Macam-macam teknik terapi suportif:
1.      Guidance/Bimbingan, yakni prosedur pemberian pertolongan secara aktif dengan cara memberikan fakta dan interpretasi' dalam bidang pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan bidang-bidang Kesehatan
2.      Manipulasi lingkungan, yakni usaha untuk menyelesaikan problem-problem emosional klien dengan cara menghilangkan atau mengubah unsur-unsur lingkungan yang tidak menguntungkan
3.      Eksternalisasi perhatian, yakni usaha untuk mengalihkan perhatian klien yang mengalami keeeinasan atau depresi dengan jalan memberikan dorongan agar klien dapat memulai lagi aktivitas yang pernah disenanginya ataupun mengembangkan kesenangan baru untuk mengisi waktu senggangnya. Jenis-jenis eksternalisasi perhatian antara lain terapi kerja, terapi musik,terapi gerak dan tari, terapi syair, terapi sosial
4.      Sugesti-prestis, yakni usaha terapis untuk mensugesti klien, yakni memberikan pengaruh psikis tanpa daya kritik
5.      Meyakinkan kembali (reassurance), terapi ini biasanya menyertai pada setiap terapi. Klien yang merasa dieengkam ketakutan yang irasional perlu ditenangkan dan dihibur.Terapis perlu mendiskusikan ketakutan-ketakutan tersebut secara terbuka dengan kliennya untuk menjelaskan bahwa ketakutan itu tidak rasional atau tidak berdasar
6.      Dorongan dan paksaan, yakni dengan memberikan ren-'ara' dan punishment untuk menstimulasi perilaku klien sesuai yang diharapkan. Di antaranya dengan cara klien diberi tugas untuk melawan impuls-impuls yang menimbulkan neurotik, berusaha menghilangkan atau mengurangi intcnsitasnya sampai di bawah titik kritis
7.      Persuasi, yakni mendasari diri pada anggapan bahwa dalam diri klien mempunyai sesuatu kekuatan untuk proses emosinya yang patologis dengan kekuatan dan kemampuan ataupun dengan menggunakan common sensenya sendiri, sebab pada umumnya orang yang menderita gangguan jiwa dalam keadaan intelek tertutup emosi
8.      Pengakuan dan penyaluran, yakni dengan cara mengeluarkan isi hati kepada orang lain. Pendekatan ini untuk mengurangi tekanan yang ada pada klien, sebab dengan adanya pengakuan dan penyaluran maka segala rasa tertekan yang mengganjal dapat dilepaskan (katarsis)
9.      Terapi kelompok pemberi inspirasi, yakni terapi kelompok yang terdiri dari klien yang memiliki problem sejenis
TERAPI REEDUCATIVE
Untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya lebih banyak di alam sadar, dengan usaha berencana untuk menyesuaikan diri, memodifikasi tujuan dan membangkitkan serta mempergunakan potensi-potensi kreatif yang ada.
Cara-cara psikoterapi reduktif antara lain :
Ø  terapi hubungan antar manusia (relationship therapy)
Ø  terapi sikap (attitude therapy)
Ø  terapi wawancara (interview therapy)
Ø  analisa dan sinthesa yang distributif (terapi psikobiologik Adolfmeyer)
Ø  konseling terapetik
Ø  terapi case work
Ø  reconditioning
Ø  terapi kelompok yang reduktif
Ø  terapi somatic 2
TERAPI RECONSTRUNCTIVE
Terapi Rekonstruktif yakni menyelami alam tak sadar melalui teknik seperti asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisa daripada transfersi. Terapi ini untuk mencapai pengertian tentang konflik-konflik yang letaknya di alam tak sadar, dengan usaha untuk mendapatkan perubahan yang luar daripada struktur kepribadian dan pengluasan pertumbuhan kepribadian dengan pengembangan potensi penyesuaian diri yang baru.
Tujuan Terapi Rekonstruktif
Perombakan radikal daripada corak kepribadian hingga tak hanya tercapai suatu penyesuaian diri yang lebih efisien, akan tetapi juga suatu maturasi daripada perkembangan emosional dengan dilahirkannya potensi adaptif baru.
Cara psikoterapi reconstructive :
Ø  Psikoanalisa Freud
Ø  Psikoanalisa non Freud
Ø  psikoterapi yang berorientasi kepada psikoanalisa

DAFTAR PUSTAKA
Pof.Dr.Gunarsa, D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta. Percetakan PT BPK Gunung Mulia




Tidak ada komentar:

Posting Komentar