Kamis, 19 Maret 2015

#PSIKOLOGI PSIKOTERAPI 1



PENGERTIAN PSIKOTERAPI
            Psikoterapi merupakan salah satu diantara metode intervensi. Istilah psikoterapi berasal dari dua kata yaitu “psiko” yang berarti kejiwaan atau mental dan “terapi“ yaitu penyembuhan. Prawitasari (dalam Ardani, Rahayu dan sholichatun, 2007) mengatakan bahwa psikoterapi adalah proses formal interaksi antara dua orang atau lebih, dengan salah satu berposisi sebagai “penolong” dan yang lainnya sebagai “yang ditolong” dengan tujuan perubahan atau penyembuhan.
Psikoterapi bisa dibilang menyembuhkan orang sakit melalui pengaruh hubungan antara seorang dengan orang lain sudah lama dilakukan, banyak yang bilang menyembuhkan orang sakit dengan ilmu gaib, takhayul dan percayaan terhadap kekuatan-kekuatan yang diluar akal manusia. bentuk penyembuhan yang kemudian dikenal dengan psikoterapi
            Wolberg (1954) merumuskan psikoterapi sebagai suatu bentuk perawatan atau perlakuan, treatment terhadap masalah yang timbul yang asalnya dari factor emosi pada mana seorang yang terlatih, dengan terencana mengadakan hubungan professional dengan pasien dengan tujuan memindahkan, mengubah sesuatu simtom dan mencegah agar simtom tidak muncul pada seseorang yang terganggu pola perilakunya, untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara lebih positif.
            Eysencek (1961), seorang yang dikenal sebagai penentang yang gigih terhadap psikoanalisis, merumuskan psikoterapi dalam beberapa cirri yaitu :
1.      Hubungan antara perorangan yang berlangsung lama.
2.      Melibatkan seorang yang terlatih.
3.      Adanya ketidak puasan pada diri klien tentang sesuatu yang emosional atau penyesuaian diri.
4.      Pemakaian metode psikologi.
5.      Aktivasi yang mendasarkan pada teori tentang kelainan mental.
6.      Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan memperbaiki ketidak puasannya terhadap diri sendiri.
Bahwa membutuhkan waktu yang lebih lama juga dikemukakan oleh Ivey & Simek-Downing (1980) yang mengemukakan bahwa psikoterapi adalah proses jangka panjang, berhubungan dengan upaya merekonstruksi seseorang dan perubahan yang lebih besar pada struktur kepribadian. Sedangkan konseling dikemukakan oleh mereka sebagai proses yang lebih intensif berhubungan dengan upaya membantu orang normal mencapai tujuannya dan agar berfungsi lebih efektif.
TUJUAN PSIKOTERAPI
            Tujuan psikoterapi menurut Ivey, et al (1987) : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
            Tujuan psikoterapi menurut Corey (1991) : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang di tekan melalui pemahaman intelektual.
            Tujuan psikoterapi menurut  Ivey, et al (1987) : untuk memberikan jalan terhadap potensi yang dimiliki seseorang menemukan sendiri arahnya secara wajar dan menemukan dirinya sendiri yang nyata atau ideal dan mengeksplorasi emosi yang majemuk serta memberi jalan bagi pertumbuhan dirinya yang unik.
            Tujuan psikoterapi menurut Corey (1991) : untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan enak, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang mencegah pertumbuhannya dan bisa mengalami aspek-aspek pada dirinya yang sebelumnya ditolak atau terhambat.      
UNSUR PSIKOTERAPI
Pendekatan kesehatan jiwa yang integratif menjadi hal yang sangat penting  ketika harus bekerja bersama orang-orang dengan beragam latar belakang kebudayaan. James & Prilleltensky mengambil suatu pendekatan transdisiplin dalam menyediakan suatu kerangka pemahaman dan peningkatan kesehatan jiwa dalam konteks keberagaman budaya, antara lain
  • Filosofis : Visi tentang kehidupan yang baik, orang yang baik, masyarakat yang baik. Agar dapat memahami bahwa nilai-nilai yang secara khusus membentuk sebuah konsep kesehatan mental, visi dari kehidupan dan masyarakat yang baik haruslah bisa diuji.
  • Seorang klien dapat ditanya apakah dia yakin terhadap gagasan liberal, individualisme dan determinasi diri; atau mereka cenderung menjunjung tinggi tradisi masyarakat dan perspektif kolektif. Seorang klien bisa jadi percaya bahwa “orang yang baik” tidak boleh menentang terapis yaitu seorang “pakar”,  sehingga dia tidak akan mau menyatakan bahwa bahwa terapi tersebut tidak ada berguna baginya. Pada budaya yang memandang suatu gangguan jiwa dengan stigma tinggi, “orang yang baik” mestinya tidaklah mencari bantuan kepada orang lain, apalagi ke rumah sakit. Suatu “keluarga yang baik” bisa jadi keluarga dimana masalah-masalah tidak didiskusikan secara terbuka, apalagi dengan orang lain, dan sudah tentu, dengan orang asing, misalnya terapis.
  • Kontekstual : persoalan-persoalan yang terjadi di daerah dimana masyarakat tertentu menetap/ tinggal. Keterlibatan ilmuwan social semakin tinggi apabila mereka berusaha untuk memahami kondisi sscial ekonomi, budaya dan politik dari suatu masyarakat dan bagaimana faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka.
  • Norma sosial dan budaya : pada suatu waktu, masalah-masalah sosial hanya ditangani pada tingkat individu saja, dan tidak melibatkan masyarakat. Bantuan ditawarkan pada orang-orang yang mengalami penganiayaan atau kekerasan dalam bentuk terapi individu. Namun saat ini masalah sosial mulai ditangani dalam tingkat masyarakat. Contoh intervensi tingkat masyarakat misalnya intervensi komunitas untuk pencegahan kekerasan.
Sangatlah jelas bahwa bahasa berakar dari konteks. Pada satu konteks, sebuah ekspresi misalnya “ada semut dalam otakku” bisa berarti sebuah delusi. Namun pada masyarakat lain bisa menjadi hanya sebuah kata-kata biasa.
  • Norma Religi/agama : padangan tentang Penyelamatan Dari Penderitaan. Model pendekatan medis sendiri menyatakan bahwa penderitaan tidak ada artinya apa-apa. Namun pandangan religius percaya bahwa penderitaan akan menguatkan ikatan dengan sesama dan dengan Tuhan. Dalam kasus ini, penderitaan adalah kendaraan untuk berkomunikasi.
  • Norma moral : persepsi individu terhadap apa artinya menjadi “orang yang baik” dan “keluarga yang baik”.  Contohnya : dengan kerangka psikoanalisis, seorang yang baik adalah orang yang bisa mengutarakan perasaannya, asertif, mandiri dan penuh pemahaman. Sehingga dengan pendekatan tersebut, terapis sering menjadi frustasi dengan penolakan klien untuk mengisi kuesioner atau aktivitas terapeutik lainnya, dimana hal tersebut bisa saja disebabkan karena hambatan dalam hal bahasa atau perbedaan budaya.
Dalam menyediakan pelayanan untuk masyarakat dengan berbagai budaya, sangatlah penting untuk mempertimbangkan semua aspek dari komunikasi verbal dan non-verbal sehingga dapat menghindari kesalahpahaman dan konflik. Salah paham dapat terjadi bahkan pada orang yang mempunyai bahasa yang sama.
Komunikasi non-verbal telah dipelajari pada masa dini kehidupan, kebanyakan adalah hasil imitasi dan asimilasi. Sehingga seringkali orang tidak menyadari tanda-tanda dari komunikasi non-verbalnya muncul. Kita hanya menjadi sadar kalau terjadi kesalah pahaman. Misalnya :
  • Ruang : berdiri dalam jarak terlalu dekat bisa membuat orang lain tidak nyaman dan merasa adanya agresivitas atau keintiman (tergantung situasinya). Berdiri terlalu jauh bisa menunjukkan ketidakpedulian.
  • Sentuhan : suku-suku tertentu lebih “gemar bersentuhan” dibanding yang lain. Sehingga sentuhan bisa dipahami sebagai cara membuat suatu hubungan yang baik atau justru mengakibatkan adanya rasa tidak nyaman dan reaksi negatif.
  • Berjabat tangan : jabat tangan yang erat menandakan adanya ketulusan atau kejujuran namun bisa jadi suatu tanda agresivitas. Jabat tangan yang lembut bisa dipahami sebagai sikap tubuh yang yang damai, tapi juga bisa menunjukkan kurangnya komitmen atau minat. Dalam beberapa budaya, bersalaman dengan jenis kelamin lain tidak diterima.
  • Diam : Individu yang berasal dari budaya tertentu cenderung merasa tidak nyaman ketika kelompoknya diam. Namun dalam budaya lain, perilaku tersebut diterima dan bahkan menunjukkan kemampuan refleksi diri serta menghormati orang lain. Dalam budaya seperti ini, orang yang tidak bisa diam/banyak bicara dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.
  • Kontak mata : membuat suatu kontak mata bisa menunjukkan adanya suatu kejujuran atau minat. Namun dalam budaya tertentu menghindari kontak mata justru menjadi tanda bahwa orang tersebut menghormati lawan bicaranya.
  • Senyum dan tawa : senyum dan tawa dapat dimaknai secara berbeda. Bisa menjadi tanda kebahagiaan dan kesenangan, terkejut, malu, marah, kebingungan, permintaan maaf, atau bahkan kesedihan. Hal tersebut tergantung pada budaya masing-masing.
  • Bahasa tubuh dengan tangan, lengan dan kaki : bahasa tubuh mempunyai makna yang berbeda-beda. Berkacak pinggang bisa berarti posisi siap untuk mempertahankan diri; tangan yang masuk saku atau menunjuk dengan jari telunjuk bisa dianggap tidak sopan; menunjukkan telapak kaki atau sepatu bisa dianggap penghinaan.
Aliansi Nasional untuk Gangguan Jiwa (NAMI/ National Alliance for Mental Illness) menyarankan adanya langkah-langkah di bawah ini untuk merangkul berbagai budaya yang beragam dalam tujuan untuk menjamin adanya suatu akses yang  setara untuk pendidikan dan pengobatan.
  1. Mengidentifikasi kelompok sasaran : bila kelompok sudah diidentifikasi, segeralah belajar mengenai karakteristik dan sejarah kelompok tersebut. Menyelenggarakan riset terhadap keyakinan kelompok tersebut mengenai gangguan jiwa sangatlah berguna.
  2. Mengindentifikasi pemimpin atau tokoh masyarakat setempat : Lakukan pendekatan terhadap tokoh masyarakat dan ajaklah untuk berperan / menjadi partner dapat menggambarkan kebutuhan masyarakat setempat dan sekaligus merangkul masyarakat. Karena keberadaan mereka sangat dihormati masyarakat, mereka akan bisa memfasilitasi akses, kepercayaan, dan perhatian dari masyarakat terhadap program Anda.
  3. Mengidentifikasi organisasi masyarakat yang sudah ada : bekerja sama dengan organisasi masyarakat yang besar bisa menjadikan suatu kekuatan terpadu yang dapat meningkatkan kemungkinan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
  4. Memutuskan fokus utama dari aktivitas : Dalam menunjukkan suatu aktivitas, kita bisa dibantu dengan beberapa metode, misalnya pamflet dan buklet dengan bahasa setempat, membentuk support group yang spesifik dalam masyarakat, meningkatkan adanya anggota yang beragam, dan pendekatan terhadap instansi pemerintah untuk meningkatkan pendanaan untuk pelayanan kesehatan jiwa untuk masyarakat yang spesifik.
  5. Penyebaran dan publisitas : bekerja dengan organisasi masyarakat, misalnya organisasi agama, kesukuan, sekolah, remaja klinik atau organisasi lainnya. Buatlah kan sebuah konferensi press, pengumuman adanya pelayanan, atau artikel di koran dan tekankan pada adanya kerja atau pelayanan yang sesuai dengan budaya setempat.

SUMBER
Pof.Dr.Gunarsa, D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta. Percetakan PT BPK Gunung Mulia

Senin, 19 Januari 2015

#PSIKOLOGI MANAJEMEN 1

KOMUNIKASI DALAM MANAJEMEN
A. Definisi komunikasi
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain, berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi miliknya.
Beberapa definisi komunikasi adalah:
1. Komunikasi adalah kegiatan pengoperan lambang yang mengandung arti atau makna yang perlu dipahami bersama oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan komunikasi (Astrid).
2. Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben.J.G).
3. Komunikasi adalah sebagai pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981).
4. Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (Schram,W)
5. Komunikasi adalah penyampaian dan memahami pesan dari satu orang kepada orang lain, komunikasi merupakan proses sosial (Modul PRT, Lembaga Administrasi).

B. Proses Komunikasi
Komunikasi merupakan suatu proses yang mempunyai kompenen dasar sebagai berikut:
1. Pengirim pesan
2. Penerima pesan
3. Pesan
Semua manajer melibatkan proses komunikasi. Proses komunikasi dapat dilihat pada skema dibawah ini:
Diagram 1 : Proses Komunikasi
1. Pengirim pesan (sender) dan isi pesan/materi
Pengirim pesan adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya. Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
Materi pesan dapat berupa :
a. Informasi
b. Ajakan
c. Rencana kerja
d. Pertanyaan dan sebagainya
2. Simbol atau Isyarat
Pada tahap ini pengirim pesan membuat kode atau simbol sehingga pesannya dapat dipahami oleh orang lain. Biasanya seorang manajer menyampaikan pesan dalam bentuk kata-kata, gerakan anggota badan, (tangan, kepala, mata dan bagian muka lainnya). Tujuan penyampaian pesan adalah untuk mengajak, membujuk, mengubah sikap, perilaku atau menunjukkan arah tertentu.
3. Media atau Penghubung
Adalah alat untuk penyampaian pesan seperti ; TV, radio surat kabar, papan pengumuman, telepon dan lainnya. Pemilihan media ini dapat dipengaruhi oleh isi pesan yang akan disampaikan, jumlah penerima pesan, situasi dan sebagainya.
4. Mengartikan kode atau Isyarat
Setelah pesan diterima melalui indera (telinga, mata dan seterusnya) maka si penerima pesan harus dapat mengartikan simbul/kode dari pesan tersebut, sehingga dapat dimengerti atau dipahaminya.
5. Penerima Pesan
Penerima pesan adalah orang yang dapat memahami pesan dari sipengirim meskipun dalam bentuk code/isyarat tanpa mengurangi arti pesan yang dimaksud oleh pengirim.
6. Balikan (feedback)
Balikan adalah isyarat atau tanggapan yang berisi kesan dari penerima pesan dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Tanpa balikan seorang pengirim pesan tidak akan tahu dampak pesannya terhadap sipenerima pesan Hal ini penting bagi manajer atau pengirim pesan untuk mengetahui apakah pesan sudah diterima dengan pemahaman yang benar dan tepat. Balikan dapat disampaikan oleh penerima pesan atau orang lain yang bukan penerima pesan. Balikan yang disampaikan oleh penerima pesan pada umumnya merupakan balikan langsung yang mengandung pemahaman atas pesan tersebut dan sekaligus merupakan apakah pesan itu akan dilaksanakan atau tidak.
Balikan yang diberikan oleh orang lain didapat dari pengamatan pemberi balikan terhadap perilaku maupun ucapan penerima pesan. Pemberi balikan menggambarkan perilaku penerima pesan sebagai reaksi dari pesan yang diterimanya. Balikan bermanfaat untuk memberikan informasi, saran yang dapat menjadi bahan pertimbangan dan membantu untuk menumbuhkan kepercayaan serta keterbukaan diantara komunikan, juga balikan dapat memperjelas persepsi.
7. Gangguan
Gangguan bukan merupakan bagian dari proses komunikasi akan tetapi mempunyai pengaruh dalam proses komunikasi, karena pada setiap situasi hampir selalu ada hal yang mengganggu kita. Gangguan adalah hal yang merintangi atau menghambat komunikasi sehingga penerima salah menafsirkan pesan yang diterimanya.

C. Hambatan Komunikasi
1. Hambatan dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.Hambatan dalam penyandian atau simbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima
Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima atau mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2. Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan, gangguan alat komunikasi dan sebagainya. 
3. Hambatan Semantik.
Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima
4. Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan.

D. Definisi Komunikasi Interpersonal Efektif
Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang mempunyai efek besar dalam hal mempengaruhi orang lain terutama perindividu.
Secara umum definisi komunikasi interpersonal adalah “Sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain mealui suatu cara tertentu (biasanya dalam komunikasi diadik) sehingga orang lain tersebut mengerti apa yang dimaksud oleh penyaampaian pikiran-pikiran atau informasi
Komunikasi interpersonal merupakan aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan cara utuk menyampaikannya dan menerima pikiran-pikiran, informasi, gagasan, perasaan, dan bahkan emosi seseorang sampai pada titik tercapainnya pengertian yang sama antara komunikator dan komunikan.
Komunikasi interpersonal dikatakan efektif, apabila memenuhi tiga persyaratan utama, yaitu:
1. Pengertian yang sama terhadap makna pesan indikator komunikasi dikatakan efektif adalah apabila makna pesan yang dikirim oleh komunikator sama dengan makna pesan yang diterima oleh komunikan.
2. Melaksanakan pesan suka rela
Indikator komunikasi interpersonal yang efektif adalah bahwa komunikasi menindak lanjut pesan tersebut dengan perbuatan dan dilakukan secara suka rela, tidak karena dipaksa.
3. Meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi efektivitas dalam komunikasi interpersonal akan mendorong terjadinya hubungan yang positif terhadap rekan keluarga dan kerja.

PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN
A.    Definisi Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan sering kita dengar dalam dunia kerja di perusahaan, organisasi, lembaga, atau bahkan dalam instansi kesehatan. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pelatihan dan pengembangan sangat penting bagi tenaga kerja untuk bekerja lebih menguasai dan lebih baik terhadap pekerjaan yang dijabat atau akan dijabat kedepan. Tidak terlalu jauh dalam instansi kesehatan, pelatihan dan pengembangan sering dilakukan sebagai upaya meningkatkan kinerja para tenaga kesehatan yang dianggap belum mampu untuk mengembangkan pekerjaannya karena faktor perkembangan kebutuhan masyarakat dalarn kesehatan. Secara deskripsi tertentu potensi para pekerja kesehatan mungkin sudah memenuhi syarat administrasi pada pekerjaannya, tapi secara aktual para pekerja kesehatan harus mengikuti atau mengimbangi perkembangan dunia kesehatan sesuai dengan tugas yang dijabat atau yang akan dijabatnya. Hal ini yang mendorong pihak instansi kesehatan untuk memfasilitasi pelatihan dan pengembangan karir para tenaga kesehatan guna mendapatkan hasil kinerja yang baik, efektif dan efisien.
Salah satu fungsi manajemen surmber daya manusia adalah training and development artinya bahwa untuk mendapatkan tenaga kesehatan yang bersumber daya manusia yang baik dan tepat sangat perlu pelatihan dan pengembangan. Hal ini sebagai upaya untuk mempersiapkan para tenaga kesehatan untuk menghadapi tugas pekerjaan jabatan yang dianggap belum menguasainya. Management thought yang dikernukakan Taylor, bahwa tenaga kerja membutuhkan latihan kerja yang tepat. Teori ini sangat tepat untuk rnenghindari kemungkinan terburuk dalam kemampuan dan tanggung jawab bekerja, sehingga dalam menyelesaikan tugas jabatan lebih efektif dan efIsien sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Dalam instansi kesehatan biasanya para tenaga kerja yang akan menduduki jabatan baru yang tidak didukung dengan pendidikannya atau belum mampu melaksanakan tugasnya, biasanya upaya yang ditempuh adalah dengan melakukan pelatihan dan pengembangan karir. Dengan melalui pelatihan dan pengembangan, tenaga kerja akan mampu mengerjakan, meningkatkan, mengembangkan pekerjaannya.

B. Definisi Pelatihan
1.    Willian G. Scott
Pelatihan dalam ilmu pengetahuan perilaku adalah suatu kegiatan  yang bertujuan untuk mengembangkan pemimpin untuk mencapai efektivitas pekerjaan perorangan yang lebih besar, hubungan antara pribadi dalam dalam organisasi yang lebih baik dan menyesuaikan pemimpin kepada konteks seluruh lingkungannya.
2.    John H. Proctor and william M. Thronton
Pelatihan adalah tindakan yang disengaja memberikan alat agar pembelajaran dapat dilaksanakan.
3.    Andrew E. Sikula
Pelatihan adalah suatu proses pendidikan jangka pendek memanfaatkan prosedur yang sistematis dan terorganisir, di mana personal non manajerial mempelajari kemampuan dan pengetahuan teknis untuk tujuan tertentu.
4.    Keith Davis and William B. Werther,Jr
Pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk melakukan pekerjaan mereka sekarang dan pengembangan mempersiapkan pagawai yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan sikap.
5.    Edwin B. Flippo
Pelatihan adalah proses membantu pegawai memperoleh efektivitas dalam pekerjaan sekarang atau yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan, fikiran, dan tindakan, kecelakan, pengetahuan dan sikap
6.    Intruksi Presiden No. 15 tahun 1974
Pelatihan adalah bagian dari pendidikan menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ketrampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktik dari pada teori.

7.    SK Menpan No. 01/kep/M.Pan/2001
Di lingkungan PNS, yang dimaksud pelatihan adalah proses pembelajaran yang lebih menekankan pada praktek daripada teori yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan menggunakan pendekatan pelatihan untuk orang dewasa dan bertujuan meningkatkan dalam satu atau berbagai jenis kerampilan.
Dari berbagai pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pelatihan adalah suatu kegiatan mempelajari kemampuan dan pengetahuan dalam bidang tertentu yang dengan sengaja diberikan melalui prosedur sistematis dan terorganisir untuk mencapai kerja yang efektif.

B.     Tujuan dan Sasaran Pelatihan dan Pengembangan
Tujuan umum pelatihan dan pengembangan, harus diarahkan untuk meningkatkan produktifitas organisasi. Tujuan pelatihan dan pengembangan merupakan langkah untuk meningkatkan produktivitas organisasi melalui berbagai kegiatan antara lain:
1.    Mengembangkan pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.
2.    Mengembangkan keterampilan atau keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan efektif.
Tujuan pelatihan :
1.    Untuk meningkatkan keterampilan para karyawan sesuai dengan perubahan teknologi.
2.    Untuk meningkatkan produktivitas kerja organisasi.
3.    Untuk mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar menjadi kompeten.
4.    Untuk membantu masalah operasional.
5.    Memberi wawasan kepada para  karyawan untuk lebih mengenal organisasinya.
6.    Meningkatkan kemampuan peserta latihan mengerjakan tugasnya yang sekarang.
7.    Kemampuan menumbuhkan sikap empati dan melihat sesuatu dari “kacamata” orang lain.
8.    Meningkatkan kemampuan menginterpretasikan data dan daya nalar para karyawan.
9.    Meningkatkan kemampuan dan keterampilan para karyawan dalam menganalisis suatu permasalahan serta pengambilan keputusan.
Tujuan pengembangan :
1.    Mewujudkan hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan.
2.    Menyiapkan para manajer yang berkompeten untuk lebih cepat masuk ke tingkat senior (promosi  jabatan).
3.    Untuk membantu mengisi lowongan jabatan tertentu.
4.     Meningkatkan semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam organisasi dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi.
5.    Mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui gaya manajerial yang partisipatif.
6.    Meningkatkan kepuasan kerja.
7.    Memperlancar jalannya komunikasi yang efektif yang dapat memperlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan operasionalnya.
8.    Mengembangkan atau merubah sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerja sama dengan sesama karyawan dan manajemen ( pimpinan ).

C. Faktor psikologi dalam pelatihan dan pengembangan
Dalam kenyataan sehari-hari banyak faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang dalam bekerja. Faktor-faktor tersebut seringkali tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan-pendekatan lain di luar psikologi. Contoh: dalam suatu team yang terdiri dari para pakar yang sangat genius  seringkali justru tidak menghasilkan performance yang baik dibandingkan dengan sebuah team yang terdiri dari orang-orang yang berkategori biasa-biasa saja.
Bagaimana Psikologi berperan dalam perusahaan, menurut John Miner dalam bukunya Industrial-Organizational Psychology (1992), dapat dirumuskan dalam 4 bagian:
1.      Terlibat dalam proses input : melakukan rekrutmen, seleksi, dan penempatan karyawan.
2.      Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada produktivitas: melakukan pelatihan dan pengembangan, menciptakan manajemen keamanan kerja dan teknik-teknik pengawasan kinerja, meningkatkan motivasi dan moral kerja karyawan, menentukan sikap-sikap kerja yang baik dan mendorong munculnya kreativitas karyawan.
3.      Berfungsi sebagai mediator dalam hal-hal yang berorientasi pada pemeliharaan: melakukan hubungan industrial (pengusaha-buruh-pemerintah), memastikan komunikasi internal perusahaan berlangsung dengan baik, ikut terlibat secara aktif dalam penentuan gaji pegawai dan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya, pelayanan berupa bimbingan, konseling dan therapi  bagi karyawan-karyawan yang mengalami masalah-masalah psikologis
4.      Terlibat dalam proses output: melakukan penilaian kinerja, mengukur produktivitas perusahaan, mengevaluasi jabatan dan kinerja karyawan.

D. Teknik dan metode pelatihan dan pengembangan
Program-program pelatihan dan pengembangan dirancang untuk meningkatkan perestasi kerja, mengurangi absensi dan perputaran, serta memperbaiki kepuasan kerja. Ada dua kategori pokok program pelatihan dan pengembangan manajemen. (Decenzo&Robbins:1999:230):
1.      Metode praktis (on the job training)
Teknik-teknik on the job merupakan metode latihan yang paling banyak digunakan. Karyawan dilatih tentang pekerjaan baru dengan sepervise langsung seorang pelatih yang berpengalaman (biasanya karyawan lain). Berbagai macam teknik ini yang bisa digunakan dalam praktek adalah sebagai berikut:
1.       Rotasi jabatan
2.      Latihan instruksi pekerjaan
3.       Magang (apprenticeships)
4.      Coaching
5.      Penugasan sementara

2.      Teknik-teknik presentasi informasi dan metode-metode simulasi (off the job training)
Teknik-teknik off the job, dengan pendekatan ini karyawan peserta latihan menerima representasi tiruan (articial) suatu aspek organisasi dan diminta untuk menanggapinya seperti dalam keadaan sebenarnya. Dan tujuan utama teknik presentrasi (penyajian) informasi adalah untuk mengajarkan berbagai sikap, konsep atau keterampilan kepada para peserta. Metode yang bisa digunakan adalah:
1.      Metode studi kasus
2.       Kuliah
3.      Studi sendiri
4.      Program computer
5.      Komperensi
6.      Presentasi
Sumber :

Materi Pelatihan Keterampilan Manajerial SPMK. Januari (2003). SEA-NURS-429, IN O OSD OO1/1.2
Siagian, Sondang P. 2003. Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara
Abizar. 2008. Interaksi Komunikasi dan Pendidikan. Padang : UNP Press
Cangara, Hafied. 2008. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : Raja Grafindo
Lilico, T.M. 1984. Komunikasi Manajemen. Jakarta : Erlangga
Moekijat. 1989. Administrasi Perkantoran.Bandung : Mandar Maju
Muhammad, Arni. 1995. Komunikasi Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara
Nuraida Ida. 2008. Manajemen Administrasi Perkantoran. Jakarta : Kanisius
Sukoco. 2006. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Jakarta : Erlangga
The Liang Gie. 1979. Kamus administrasi perkantoran. Jakarta : Nur Cahaya
Yusup, Pawit M. 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi dan Kepustakaan. Jakarta : Bumi Aksara
https://ajengjiwapangestu.wordpress.com/2014/01/15/komunikasi-dalam-manajemen/