Sejak
tahun 1980-an tampak fenomena-fenomena yang mengindikasikan menguatnya
religious umat islam. Bahwa diantara fenomena-fenomena yang menunjukan
peningkatan religiusitas umat islam di Indonesia ini salah satunya muncul dalam
bentuk merebaknya penggunaan busana islam. Salah satu fenomena menarik terkait
dengan merebaknya penggunaan busana islami adalah penggunaan cadar dikalangan
muslimah.
Sudah
tidak heran jika kita melihat seorang wanita berhijab dengan menggunakan cadar
di Negara lain seperti di Negara Saudi Arabia, sebaliknya di Indonesia.
Indonesia sangat tabu dengan sosok wanita yang bercadar sampai menutupi seluruh
badan kecuali mata. Cadar dalam islam adalah jilbab yang tebal dan longgar dan
cadar pun hanya untuk menutup aurat perempuan itu sajah.
Di sisi lain, bila kita lihat dari sudut pandang
psikologis perempuan memiliki kecenderungan untuk menarik perhatian lawan jenis
untuk memenuhi kebutuhan tahap perkembangannya.
Hyde dan Rosenberg , mengungkapkan bahwa semenjak pubertal perempuan
telah mendapatkan sosialisasi dari masyarakat bahwa terdapat kelebihan dari
bentuk tubuh perepuan yang menjanjikan penerimaan lingkungan, popularitas dan
cinta. Ketika perempuan tengah menginjak masa dewasa akan timbul kebutuhan
seksualitas yang mendalam, dimana hal
ini tidak mungkin akan terwujud bila ia tidak mampu untuk menarik lawan
jenisnya yang biasa dilakukan dengan menggunakan pakaian yang menarik atau
berdandan.
Dalam konteks sosial, keberadaan perempuan bercadar masih
belum dapat diterima secara penuh oleh masyarakat. Terhadap persepsi sosial
yang negative terhadap perilaku bercadar yang mereka lakukan. Kondisi yang
berkembang saat ini juga menempatkan cadar lekat dengan fenomena teroris
ataupun gerakan-gerakan islam radikal. Fenomena radikalisme kegamaan dulu
berupa terror peledakan yang melambungkan beberapa nama seperti Amrozi, Imam
Samudra dan Ali Imron, kerap menyisikan sosok perempuan bercadar yang berada
dibalik mereka. Dengan dasar inilah kemudian sebagian masyarakat
mengasosiasikan keberadaan setiap perempuan bercadar dengan teroris. Sikap yang
ditunjukan oleh masyarakat ini disebut oleh Baron dan Byrne, dengan istilah
prasangka. Telah terbentuk sebuah prasangka yang negative dalam masyarakat
terhadap perempuan bercadar atau dengan kata lain timbul sikap negative
sebagian masyarakat terhadap perempuan bercadar dikarenakan keberadaan yang
dianggap sebagain dari kelompok teroris.
Sementara itu sebagian masyarakat juga merasa bahwa
keberadaan perempuan bercadar mengganggu proses integrasi sosial, mereka
beranggapan bahwa alasan di balik penggunaan cadar oleh muslimah adalah
keengganan mereka untuk bersosialisasi dengan masyarakat, cadar dikaitkan
dengan symbol penolakan seorang individu untuk bergabung dengan masyarakat.
Dalam hal ini telah terjadi sebuah pemberian atribusi
sosial yang negative terhadap para perempuan bercadar. Atribusi yang dilakukan
mencoba untuk mencari alasan dibalik penggunaan cadar bagi seorang perempuan
muslimah. Myres, menyebutkan bahwa atribusi terjadi dikarenakan kecenderungan
manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk alasan di balik perilaku
orang lain, dalam hal ini penggunaan cadar bagi seorang muslimah.
Dengan adanya persepsi, prasangka dan pemberian atribusi
sosial yang negative terhadap keberadaan perempuan bercadar, maka jelas mereka
akan mengalami kesulitan untuk bergabung dan bersosialisasi dalam masyarakat.
Hal ini menjadi suatu permasalahan tersendiri mengingat pada dasarnya manusia
adalah makhluk sosial yang memebutuhkan orang lain. Dimana menurut Erikson
(dalam Wiliams) seorang individu pada tahapan perkembangan ini mulai membuat
komitmen hubungan dengan orang lain. Ketika hubungan yang dijalin dengan
oranglain tidak berhasil, individu akan merasakan dirinya terisolasi dari
lingkungannya. Bila seorang perempuan dewasa muda bercadar sulit untuk bergaul
dengan lingkungan sosialnya maka ia tidak akan mampu untuk menjalin hubungan
sosialnya dengan orang lain segngga kebutuhan psikologisnya tidak akan
terpenuhi dan pada akhirnya menjadi individu yang selalu merasa sendirian.
Selain itu perempuan dewasa muda juga sedang berada dalam
tahap pemilihan pendidikan dan pengembangan karir. Menurut Hyde dan Rosenberg,
paradigm yang berkembang di masyarakat saat ini mendorong seorang istri untuk
juga bekerja keluar rumah dibandingkan hanya menjadi ibu rumah tangga. Hal ini
dikarenakan pemberian nilai yang rendah oleh masyarakat terhadap seorang
perempuan yang hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Schacter-Singer teori
ini berpendapat bahwa emosi yang dialamo seseorang berasal dari interpretasi
terhadap keadaan jasmani yang bangkit/siaga.
DAFTAR
PUSTAKA
Basuki,Heru.(2008).Psikologi
Umum.Jakarta.Universitas Gunadarma.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar